Rabu, 03 November 2010

Tentang Nama orang Bali



Ketika melihat beberapa nama lengkap rekan kita yang berasal dari Bali, mungkin ada yang bertanya-tanya. Di antara mereka, ada yang memiliki nama depan serupa seperti; Putu, Gede, Wayan, Made, Nengah, Komang, Nyoman atau Ketut. Ada juga Ida Bagus, Ida Ayu, Gusti Ngurah, Gusti Putu, Gusti Wayan, Cokorda, Dewa Putu, atau Anak Agung, dst. Apa maksud dan makna dari duplikasi nama depan ini? Saya akan coba jelaskan berdasarkan pengetahuan saya.


Sebelumnya akan saya jelaskan dulu tentang tambahan kata “i” atau “Ni” yang biasanya terdapat pada awal nama orang Bali. “I” dipake untuk anak laki-laki, dan “Ni” digunakan untuk anak perempuan. Kedua kata ini mengandung arti “Si” dalam Bahasa Indonesia. Misalnya; si A, si B, si C, dst. Penambahan kata ini sebenarnya opsional, artinya ada yang memakainya ada juga yang tidak. Tapi mayoritas orang Bali memakainya. Yang mengabaikan penambahan “I” atau “Ni” ini biasanya rekan kita yang berasal dari Kabupaten Buleleng (Singaraja).
Di dalam adat istiadat dan budaya Bali, sistem pemberian nama depan umumnya didasarkan pada urutan kelahiran si anak.
  1. Anak pertama (sulung) umumnya akan diberi nama depan seperti; Putu, Gede, atau Wayan. Contohnya seperti nama saya; I Putu Budiastawa, Gede Prama, dst.
  2. Anak kedua umumnya diberi nama depan; Made, Kadek atau Nengah. Contohnya; I Made Ardana, Ni Made Wiratnati, Nengah Gunadi, dst.
  3. Anak ketiga biasanya diberi nama depan; Komang atau Nyoman. Misalnya; I Komang Tirtayasa, Ni Nyoman Dwi Arianti, Komang Budiasa, dst.
  4. Anak keempat umumnya diberikan nama depan; Ketut. Misalnya; I Ketut Pancasaka, Ni Ketut Widiadari, Ketut Astawara, dsb.
Lalu bagaimana dengan anak kelima, keenam, dan seterusnya? Di sini ada dua alternatif. Pertama, ada yang menerapkan dengan kembali lagi ke putaran awal, misalnya kembali ke Putu, kemudian Made, dst. Kedua, ada juga yang menerapkan dengan terus-menerus memberikan nama depan Ketut untuk anak kelima, keenam dan seterusnya.

Catur Warna

Selepas penjelasan di atas, mungkin ada rekan yang bertanya lagi. Bagaimana dengan kawan saya dari Bali yang bernama Ida Bagus Oka Sugawa, Ida Ayu Komang Tantri, Anak Agung Gede Brahmandala, Gusti Putu Aryadana, Cokorda Rai Wismandala dan I Dewa Putu Kardana? Kenapa nama depannya ada tambahan lain dan beda?
Dulu. Dulu ya, pada masa kerajaan khususnya pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali, ada yang namanya Catur Warna. Yaitu empat penggolongan profesi dan pengabdian dalam kehidupan pada masa itu. Dari pembagian ini timbul gelar-gelar yang ditambahkan pada nama orang Bali. Dan pemberian nama itu diwariskan turun temurun hingga sekarang.
Perihal Catur Warna, saya tidak akan menjelaskannya lebih rinci. Kalau rekan-rekan ingin mengetahui lebih jauh, silakan tanya Paman Google ya :) Di sini saya hanya menggarisbawahi bahwa penambahan nama-nama depan di atas berasal dari sana. Nama depan seperti Ida Bagus [untuk pria] dan Ida Ayu [untuk wanita] itu muncul dari golongan Brahmana yang pada masa ‘tempo doeloe’ menitikberatkan pengabdiannya di bidang kerohanian, kependetaan dan keagamaan.Sedangkan nama depan seperti Anak Agung, Cokorda, I Dewa Putu, Dewa Ayu, Desak, Gusti Putu, Gusti Ayu, atau Sayu, itu berasal dari golongan Ksatrya, yang pada jaman kerajaan ‘doeloe’ menitikberatkan pekerjaan dan pengabdiannya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.
Demikian penjelasan tentang nama orang Bali berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Jika mungkin ada yang kurang tepat, mohon diluruskan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts